Mahasiswa Difabel itu Butuh Dukungan, Bukan Direndahkan.


Saat ini masyarakat Indonesia kayaknya masih merasa asing dengan yang namanya mahasiswa difabel. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti "Emangnya mereka mampu buat ngikutin pelajaran yang diberikan dosen?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang cenderung menyudutkan dan meremehkan penyandang disabilitas. Seakan-akan mereka gak berhak kuliah seperti orang lain yang mungkin lebih beruntung dari mereka. Padahal mereka pun sebenarnya sudah cukup kesulitan dengan kondisi mereka, dan mereka menerimanya dengan lapang dada. Masyarakat yang seharusnya mendukung mereka malah menjadi musuh yang tanpa sadar melukai hati mereka dan memadamkan semangat mereka buat kuliah.

Gak beda jauh ama masyarakat umum, pihak kampus pun saat ini terasa masih kurang memperhatikan mahasiswa difabel-nya. Pihak kampus seakan menutup mata dengan mahasiswa difabel dan memperlakukannya sama dengan mahasiswa lain. Padahal kan mahasiswa difabel itu perlu dibina secara khusus agar mereka juga bisa menyerap ilmu yang diajarkan oleh dosen itu. Ya wajar kalau di mata masyarakat mahasiswa difabel itu gak mampu buat kuliah, ya karena sistem di kampusnya sendiri yang salah. Jadi mereka gak bisa menyerap ilmunya dengan baik dibandingkan mahasiswa lainnya. Bahkan ada loh kampus yang masih belum menerima mahasiswa difabel, dikarenakan fasilitas yang gak memadai serta kualitas pengajar yang gak mampu buat mengakomodasi mahasiswa difabel ini.

Beruntung lah saya kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kampus yang mungkin paling peduli dengan mahasiswa-mahasiswa penyandang disabilitas. Dari awal pendaftaram pun kampus ini sudah menyediakan jalur masuk khusus untuk peyandang disabilitas. Tidak hanya jalur masuk, saat ujian masuknya juga UIN menyediakan pendamping buat masing-masing calon mahasiswa, sehingga mahasiswa difabel ini menjadi lebih nyaman dan bisa mengerjakan ujian masuk dengan lebih baik. Setelah calon mahasiswa diterima di UIN pun pendampingan tetap diberikan di setiap mahasiswa tersebut kuliah. Yang mendampingi sendiri merupakan mahasiswa UIN itu sendiri yang memang peduli dengan teman-temannya yang menyandang disabilitas, sehingga peyandang disabilitas sendiri tidak akan canggung untuk berinteraksi dengan pendampingnya karena seumuran. Mahasiswa yang peduli dan berminat mendukung teman-teman difabel ini tergabung dalam lembaga yang ada di kampus bernama PLD.


Pusat Layanan Difabel (PLD) merupakan unit layanan yang ada di UIN Sunan Kalijaga, khusus dibuat untuk membantu mahasiswa-mahasiswa difabel yang membutuhkan bantuan dan dukungan. PLD sudah berdiri sejak 2 Mei 2007 lalu, yang kemudian kian berkembang menjadi lembaga structural yang cukup berpengaruh di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M). Pada tahun 2015/2016 saja PLD di UIN ini sudah memberikan layanan kepada 55 mahasiswa difabel, yang terdiri atas mahasiswa tunanetra, tunarungu dan tunadaksa. Selain menjadi unit layanan, PLD  juga berperan sebagai pusat studi yang melakukan kajian akademis tentang berbagai masalah disabilitas seperti: disabilitas dan Islam, pendidikan inklusi, akses ke lapangan pekerjaan, studi kebijakan terkait hak-hak difabel, dan lain-lainnya.

PLD sendiri terbentuk berkat 3 dosen UIN yang sedang menempuh S2 di Kanada pada waktu itu merasa  di universitas mereka belajar sangat memperhatikan mahasiswa-mahasiswanya yang menyandang disabilitas. Berbeda jauh dengan UIN sendiri yang masih seperti kebanyakan Universitas di Indonesia. Meskipun UIN menerima mahasiswa difabel, tapi tidak mendapatkan layanan dan fasilitas khusus yang bisa membantu mahasiswa difabel untuk memudahkan perkuliahan mereka. Sehingga mahasiswa difabel di kampus ini pun harus berjuang sendiri mengandalkan tekad dan kebaikan orang-orang sekitar yang cukup peduli dengan penyandang disabilitas. Maka dari itu, setelah 3 dosen yang berkuliah di Kanada ini kembali pulang ke Indonesia, mereka langsung menjalin komunikasi dengan berbagai pihak termasuk rektor UIN saat itu untuk membentuk sebuah layanan dan pusat studi untuk mahasiswa-mahasiswa difabel.

Saat ini PLD dikepalai oleh Bapak Dr. Arif Maftuhin, M.A untuk periode 2016 hingga 2020 nanti. Pak Arif merupakan alumni Jurusan Muamalah-Jinayah di Fakultas Syariah, IAIN Walisongo (1998), yang kemudian melanjutkan studi S2 dalam bidang hukum Islam di IAIN Sunan Kalijaga (2000). Mengajar di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Pak Arif banyak mengembangkan diri melalui berbagai program pelatihan dan sertifikat. Ia adalah lulusan pertama program Belajar Bersama Demokrasi di Yayasan LKiS Yogyakarta (1999), Workshop Islam dan Gender tingkat Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh PSW UIN Sunan Kalijaga (2004), Shortcourse on Community Development di McGill University, Montreal, Canada (2004). Terakhir (2013), ia mengambil dua certificate program, Training and Facilitation dan Advocacy dari St. Francis Xavier University di Canada. Ia kemudian bergabung dengan PLD pada tahun 2010 dan mengelola program-program yang terkait dengan teknologi bantu dan menyibukkan diri dalam penelitian Islam dan disabilitas.

- Program-Program PLD -

Workshop Dosen
Dosen tentu saja berperan penting dalam kesuksesan setiap mahasiswanya. Tak terkecuali mahasiswa-mahasiswa difabel yang membutuhkan keringanan hati para dosen untuk menyampaikan pelajaran dengan baik dan bisa diterima oleh mereka yang menyandang disabilitas. Setiap mahasiswa difabel memiliki keunikan dalam hal latar belakang akademik, sosial, dan difabilitasnya. Maka dari itu PLD UIN memberikan workshop untuk mempertemukan para dosen yang sedang mengajar difabel.

Dalam workshop ini diharapkan para dosen yang sedang ataupun pernah mengajar mahasiswa difabel bisa berbagi pandangan tentang bagaimana mengajar di kelas inklusi dengan baik. Mereka juga bercerita tentang masalah-masalah yang biasa dihadapi saat mengajar di kelas yang terdapat mahasiswa difabel, sehingga masalah tersebut tidak akan terulang lagi. Selain itu, mereka juga bisa berbagi tips dan solusi tentang proses belajar mengajar yang baik dan tentunya memastikan mahasiswa difabel juga mendapatkan ilmu yang sama dengan mahasiswa lainnya.


Dengan adanya workshop ini setiap tahunnya, PLD yakin dosen-dosen akan menjadi terbiasa dan tidak merasa terbebani dalam mengajar mahasiswa difabel. Karena pada dasarnya kebanyakan dosen merasa keberatan dalam mengajar mahasiswa difabel itu karena mereka tidak tau apa-apa tentang difabel dan kebingungan dalam menanganinya.


Workshop Relawan 
PLD tentunya tidak bisa apa-apa tanpa bantuan para relawan yang dengan suka rela membantu temannya yang membutuhkan. Maka dari itu PLD selalu mengembangkan program relawan sebagai media pengembangan diri bagi anak-anak muda yang memiliki perhatian terhadap masalah difabel dan pendidikan inklusi. Dengan menjadi relawan di PLD, selain membantu temannya yang menyandang disabilitas, juga bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam masalah-masalah yang terkait dengan dunia disabilitas dan pendidikan inklusi.

Sebagaimana workshop dosen, workshop untuk para relawan ini diadakan agar para relawan dapat bekerja secara baik dalam membantu fungsi-fungsi layanan PLD. Pertama bagi relawan yang baru mengenal masalah disabilitas bisa dikenalkan terlebih dahulu 
dengan dunia difabilitas di workshop ini. Kemudian relawan-relawan senior juga bisa membagi pengalaman-pengalamannya sehingga penerus mereka bisa memahami isu-isu dalam pendidikan inklusi. Dan tentu saja yang paling penting dari workshop ini yaitu untuk melatih berbagai jenis keterampilan dalam berinteraksi atau melayani difabel.




Nah buat kalian yang berminat dan ingin terjun langsung ke dalam dunia disabilitas, kalian bisa banget loh mendaftar sebagai relawan, tidak harus mahasiswa UIN, karena PLD membuka ruang untuk kalian semua yang peduli terhadap penyandang disabilitas. Kalian tertarik menjadi relawan? Silakan daftar secara online di sini.

Pelatihan Bahasa Isyarat 
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendamping yang fungsional dan komunikatif, PLD juga mengadakan pelatihan bahasa Isyarat untuk para relawan. Pelatihan ini diutamakan untuk para relawan baru yang nantinya menjadi ujung tombak bagi PLD, hal ini mengantisipasi jika relawan yang sudah berpengalaman sudah tidak bisa lagi membantu di PLD. Pelatihan ini nantinya tentu saja sangat berguna bagi para relawan untuk lebih berkontribusi lagi dalam membantu mahasiswa difabel dan juga bisa menjadi pengalaman dan ilmu baru bagi para relawan. PLD sadar, pentingnya memahami bahasa isyarat, tidak cuma bagi keluarga peyandang difabel maupun relawan, masyarakat umum pun sebaiknya memahami paling tidak sedikit, sehingga nantinya bisa membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pelatihan Teknologi Bantu
Selain pelatihan untuk para relawan, PLD juga tidak lupa memberikan pelatihan untuk mahasiswa difabel yang ada di UIN. Apalagi saat ini teknologi sudah semakin berkembang dan juga sudah banyak teknologi-teknologi bantu untuk mereka yang menyandang disabilitas. PLD meyakini, difabel yang ingin sukses akademik dan dalam pengembangan karirnya ke depan wajib menguasasi teknologi bantu. Jadi PLD memberikan pelatihan teknologi bantu secara khusus, misalnya, tunentra membutuhkan teknologi bantu seperti komputer bicara (Jaws) agar ia mampu secara mandiri mengerjakan tugas-tugas kuliah, membaca buku, hingga penelitian dan pengolahan data untuk skripsi. 

PLD juga sudah menyiapkan banyak teknologi bantu di kantor PLD, sehingga baik para relawan ataupun mahasiswa difabel bisa langsung datang dan mencoba menggunakannya. Diharapkan teknologi bantu ini semakin dikembangkan lagi sehingga bisa semakin memudahkan mahasiswa-mahasiswa difabel dalam menjalankan aktivitas kuliahnya.


Beasiswa Pena Inklusi
PLD selalu mengajak masyarakat untuk turut peduli terhadap disabilitas dengan memberikan apresiasi berupa beasiswa pena inklusi yang diadakan untuk kalian yang melakukan riset dan publikasi dalam bidang kajian dasiabilitas. 12 Artikel terbaik yang terpilih yang mendapatkan beasiswa nantinya diharapkan bisa terus peduli terhadap disabilitas dan mampu memotivasi sekitarnya untuk turut memperhatikan peyandang disabilitas. 

"Hadiahnya mungkin tidak banyak, tetapi kami percaya bahwa kepedulian terhadap isu-isu difabel melampaui jumlah hadiah," kata Editor-in-Chief Jurnal Inklusi, Arif Maftuhin. "Dulu kita pernah menyelenggarakan dan masyarakat antusias menyambut. Kami percaya, tahun ini pun demikian," lanjutnya.

Seperti dugaan, tahun ini 51 judul penelitian didaftarkan dalam lomba Beasiswa Pena Inklusi ini, dan menariknya pesertanya terdiri dari berbagai daerah dan juga berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. UIN sebagai penyelenggara menyumbangkan 40% dari total judul penelitian membuktikan bahwa Universitas ini begitu peduli terhadap difabel, tidak hanya pengurusnya tetapi mahasiswanya pun peduli dengan penyandang disabilitas. 

Anugerah Inklusi
Selain mengadakan lomba pena inklusi, PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga memberikan penghargaan tahunan kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam mewujudkan universitas inklusif di UIN Sunan Kalijaga. Penghargaan ini dinamakan dengan Anugerah Inklusi. Di Anugerah Inklusi, PLD memberikan penghargaan kepada tiga kategori : perorangan, lembaga, dan mitra.

Di tahun 2016 lalu, Anugerah Inklusi memberikan penghargaan perorangan kepada Andayani, MSW dan Ro'fah, Ph.D. Ibu Andayani sendiri merupakan salah satu pendiri awal PLD dan juga yang menjadi direktur pertama di PLD. Sedangkan Bu Ro'fah merupakan direktur pengganti Bu Andayani yang kemudian semakin membawa PLD berkembang hingga sekarang. 

Untuk kategori lembaga sendiri, PLD memberikan penghargaan kepada Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang selalu memberikan layanan terbaiknya untuk mahasiswa difabel. Apalagi saat ini sudah ada Difabel Corner yang semakin memudahkan peyandang disabilitas untuk belajar di perpustakaan. Tidak heran memang, soalnya Perpustakaan UIN ini sendiri merupakan perpustakaan universitas pertama di Indonesia yang memberikan layanan aksesibilitas untuk para mahasiswanya.


Yang terakhir, untuk kategori mitra, PLD UIN memberikan apresiasi penuh kepada PT. Astra Honda Motor (AHM) atas kepedulian AHM membantu para mahasiswa difabel untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka. Dari tiga tahun terakhir, AHM selalu memberikan bantuan kepada PLD untuk melayani mahasiswa difabel, baik berupa materil maupun moril. 



Diawali pada tahun 2015, AHM bekerjasama dengan PLD UIN untuk mengembangkan layanan mobilitas untuk mahasiswa difabel. Pada kerjasama ini, AHM menyumbangkan 1 buah motor Honda berdesain khusus untuk mendukung kegiatan mahasiswa difabel. AHM sendiri tidak sembarang memilih PLD UIN sebagai partner, hal ini didasarkan pada kepedulian UIN sebagai kampus pertama di Indonesia yang memiliki kepedulian penuh pada mahasiswa difabel. 

“Kami terpanggil untuk dapat melakukan hal yang sama sesuai kemampuan kami. Kami harapkan donasi Honda Spacy FI berdesain khusus ini dapat meningkatkan layanan mobilitas bagi para mahasiswa difabel yang punya passion tinggi dalam study.” Kata Deputy Head of Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin, yang dikutip dari astra-honda.com.


Kemudian kerjasama ini tidak cuma berhenti disitu saja, pada tahun 2016 hingga sekarang, AHM memberikan apresiasi kepada mahasiswa difabel yang berprestasi serta relawan yang aktif membantu para peyandang disabilitas berupa beasiswa. Beasiswa ini diharapkan bisa menjadi penyemangat untuk mahasiswa difabel kalau mereka juga pantas untuk berkuliah dan mampu lulus dengan nilai baik. 

“Beasiswa yang diberikan Astra tahun ini (2016) adalah tindak lanjut dari bantuan kendaraan mobilitas yang sudah diberikan tahun lalu (2015). Karena itu, komitmen Astra sangat kami apresiasi dan mereka pantas mendapatkan Anugerah Inklusi 2016,” jelas Arif Maftuhin, Ketua PLD UIN, yang dikutip dari pld.uin-suka.ac.id.

PLD sebagai lembaga layanan difabel memang selalu membutuhkan dan mengharapkan bantuan dari masyarakat semua, sehingga bisa mewujudkan universitas yang inklusif. Bantuan dari AHM diatas merupakan salah satu bentuk bantuan yang sangat berarti bagi PLD dan juga bagi para mahasiswa difabel. AHM sebagai produsen motor tidak hanya memikirkan pendapatan yang melimpah, tapi mereka juga menginginkan Indonesia yang maju, Indonesia yang mempunyai penduduk yang peduli dengan sesama. 

Apa jadinya jika mahasiswa-mahasiswa difabel di UIN tidak mendapatkan bantuan dari AHM, sedangkan mereka sendiri sebagian berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka sudah sejauh ini meniti perjalanan mencari ilmu. Mereka perlu mendapatkan dukungan agar terus bersemangat dalam belajar.

Semoga dengan bantuan 'kecil' dari Astra ini dapat menginspirasi kita semua, khususnya masyarakat yang masih memandang remeh mahasiswa difabel untuk bisa turut mendukung mereka dalam mewujudkan impian mereka. Tidak perlu dukungan materi, dengan kalian tidak memandang rendah mereka saja sudah merupakan wujud dukungan kalian. Dan untuk seluruh universitas di Indonesia, semoga bisa mengikuti jejak yang sudah dibangun UIN Sunan Kalijaga sejak lama ini. Karena universitas inklusif tidak cukup hanya menerima siswa disabilitas saja, lebih dari itu, bagaimana kampus dapat melindungi dan menyampaikan hakn mereka.

Daftar Bacaan : 
http://pld.uin-suka.ac.id
http://pld.uin-suka.ac.id/2016/12/anugerah-inklusi-2016.html
http://pld.uin-suka.ac.id/2017/06/beasiswa-pena-inklusi-2017.html
http://www.astra-honda.com/ahm-dan-uin-yogyakarta-kembangkan-layanan-mobilitas-untuk-mahasiswa-difabel
http://www.tribunnews.com/regional/2015/05/04/ahm-dan-uin-yogyakarta-kembangkan-layanan-mobilitas-untuk-mahasiswa-difabel
http://www.tribunnews.com/pendidikan/2016/12/05/anugerah-inklusi-dari-uin-yogyakarta-untuk-ahm
https://autotekno.sindonews.com/read/1160985/121/peduli-difabel-ahm-peroleh-anugerah-inklusi-dari-uin-yogyakarta-1481031216
http://uin-suka.ac.id/id/web/berita/detail/1348/mahasiswa-difabel-uin-suka-terima-beasiswa-dari-pt-astra-honda-motor
SHARE

Khusairi Abdy

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment

0 komentar:

Post a Comment